oleh

Pura Taman Ayun Mengwi

Pura Taman Ayun Mengwi Badung Bali adalah salah satu obyek wisata di Bali yang merupakan pura Ibu (Paibon) bagi Kerajaan Mengwi, di Bali. Pura ini seolah-olah berada di tengah sebuah danau, sebab dikelilingi oleh kolam ikan dengan ukuran yang luas. Pura Taman Ayun yang terletak di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, dan Propimsi Bali ini dibangun pada abad 17 (konon dibangun tahun 1634) oleh raja pertama Kerajaan Mengwi Tjokerda Sakti Blambangan dengan arsitek yang berasal dari Cina. Awalnya pura ini didirikan karena pura-pura tempat peribadatan umat saat itu tersedia, jaraknya terlalu jauh untuk dijangkau oleh masyarakat Mengwi. Terletak tidak jauh dari pusat keramaian pariwisata Bali yaitu Kuta

Pura Taman Ayun awalnya dibangun sebagai tempat wisata keluarga kerajaan Mengwi. Dibangun pada tahun 1634 oleh raja pertama kerajaan Mengwi yang bernama I Gusti Agung Putu. Pura dengan taman yang indah ini pada tahun 2002 diusulkan oleh Pemda Bali kepada UNESCO untuk dimasukkan dalam World Heritage List. Pura Taman Ayuntelah mengalami beberapa kali perbaikan. Perbaikan secara besar-besaran dilaksanakan tahun 1937. Pada tahun 1949 dilaksanakan perbaikan terhadap kori agung, gapura bentar, dan pembuatan wantilan yang besar. Perbaikan ketiga tahun 1972 dan yang terakhir tahun 1976.

Bagian Bagian Pura Taman Ayun 

Pura Taman Ayun dibagi menjadi 3 daerah. Daerah pertama yang disebut Nista Mandala atau Jaba Pisan. Di sisi kanan, ada sebuah bangunan besar yang disebut Wantilan. Tempat ini sering digunakan untuk pertemuan dan pertunjukan seni. Ada juga air mancur yang mengarah ke 9 penjuru mata angin. Daerah kedua disebut Madya Mandala atau Jaba Tengah. Disini terdapat balai pertemuan yang disebut Aling-aling Pengubengan. Dan bagian terakhir (ketiga) disebut Utama Mandala atau Jeroan. Bagian ini adalah tempat pura-pura utama (meru) yaitu pagoda dengan atap bertingkat-tingkat khas bangunan pura di Bali, dan hanya dibuka saat adanya upacara piodalan.

Tiga bagian di kompleks Pura adalah simbol dari tiga tingkat dunia kosmik. Yang pertama adalah tempat bagi manusia, yang kedua adalah tempat roh atau atma, dan halaman utama adalah tempat dimana Tuhan, yaitu suatu simbol surga. Dalam sebuah kisah kuno berjudul Adhiparwa, dikatakan bahwa seluruh kompleks Pura menggambarkan Gunung Mahameru yang mengapung di lautan susu.

Puas menikmati keindahan taman, pada pelataran utamanya anda bisa menyaksikan kemegahan pura dengan pahatan-pahatan seni dari jaman kerajaan. Sedikitnya ada 10 bangunan meru, yang tertinggi sampai tumpang sebelas. Para pengunjung bisa menikmati areal sekeliling pura dari ketinggian dengan menaiki bale kulkul yang berada di sebelah kiri pintu gerbang. Bagi Anda yang gemar berfoto-foto, kori agung (gapura utama) yang berdiri megah adalah objek yang sangat cocok untuk dijadikan latar. Sedangkan bagi Anda yang gemar berbelanja, di seberang pura terdapat beberapa pedagang yang menjual makanan ataupun cendramata.

Daya tarik lain yang dapat Anda nikmati di tempat ini adalah peninggalan Kerajaan Mengwi yang berada sekitar 300 m dari pura itu, serta Museum Manusa Yadnya. Dalam museum tersebut, wisatawan bisa menyaksikan upacara-upacara yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia, mulai dari dalam kandungan sampai meninggal. Bagi Anda yang ingin menginap, di sekitar kawasan wisata ini terdapat banyak penginapan dengan berbagai tipe. Mulai dari wisma, hotel kelas melati, hingga hotel berbintang. Warung makanan kecil dan restoran juga sangat mudah dijumpai. Menu yang ditawarkan bervariasi dengan harga yang terjangkau.

Komentar