Pura Tirta Empul terletak di sebuah lembah sebelah timur Desa Tampaksiring di kelilingi perbukitan dan persawahan yang bertingkat-tingkat.

Tirtha Empul (sumber air) terdapat bagian dalam pura di wewidangan madyamandala pura. Dari sumber air itulah mengalir air yang keluar dari pancoran-pancoran yang memiliki mana dan fungsi dalam berbagai upacara di daerah itu. Di sebelah barat sumber air itu berdiri Istana Presiden Tampaksiring yang sangat asri.

Pura Tampak Siring merupakan sebuah pura kuno, pura tua ini dibangun pada 926 sebelum masehi kemudian dibangun kembali pada tahun 1960-an.

Konon cerita tentang pembentukan di pura Hindu ini ada seorang raja, bernama Mayadenawa yang berarti kuat. Raja ini menggunakan aturan tirani, sehingga dewa Indra dikirim ke bumi untuk membunuhnya.

Tirta Empul ini terbuka untuk umum sebagai tempat favorit wisata di Bali. Akan tetapi, karena sudah termasuk sebagai salah satu tempat suci Hindu, pengunjung harus memakai pakaian sopan untuk memasukinya

Untuk memasuki pura ini, pengunjung diharuskan memakai celana panjang, sarung, atau “senteng” yaitu kain untuk mengikat pinggul seseorang.

“Senteng” ini bisa disewa dengan biaya Rp. 5.000,-. Kompleks pura Tirta Empul Bali ini dibuka dari pukul 08:00 pagi sampai 18:00 sore.

Jika Anda ingin merencanakan pergi mengunjungi tempat ini, lebih baik Anda datang lebih awal jika Anda ingin merasa sedikit santai sebelum pura ini ramai oleh wisatawan asing.

Tiket Masuk Pura Tirta Empul

Setiap wisatawan Domistik yang akan masuk dan merasakan sensasi melukat atau prosesi penyucian diri di kolam tirta empul akan dikenakan biaya Rp.30.000/orang.

Sementara bagi anda yang membawa serta kendaraan bermotor, tarif parkir kendaraan di pura tirta empul bali ini adalah Rp.2.000/motor dan Rp.5.000/mobil.

Sejarah Singkat Tirta Empul
Diceritakan seorang raja sakti, tapi memiliki sifat jahat dan beraggapan dirinya adalah seorang dewa. Karena bersifat jahat, maka Dewa Indra mengirim pasukan beliau, untuk menghancurkan Mayadenawa.
Mayadenawa kalah perang melawan Dewa Indra dan Mayadenawa lari kehutan. Untuk menghilangkan jejak, Mayadenawa berjalan dengan memiringkan kakinya ke tengah hutan.
Walaupun Mayadenawa berusaha menghilangkan jejak, tapi usahanya melarikan diri gagal. Sebelum berhasil ditangkap oleh pasukan dewa Indra, Mayadenawa menciptakan mata air beracun.
Dengan mata air beracun, Mayadenawa berhasil membunuh sebagian dari pasukan dewa Indra, yang mengejar Mayadenawa.
Untuk mengatasi mata air beracun dari Mayadenawa, Dewa Indra menciptakan mata air penawar racun. Mata air ini yang bernama Tirta Empul (air suci), oleh karena itu Pura yang memiliki mata air ini disebut dengan nama pura Tirta Empul.
Hutan yang digunakan untuk Mayadenawa melarikan diri, dengan posisi kakinya dimiringkan inilah yang sekarang menjadi kawasan wisata Tampak Siring

Komentar